Rabu, 05 April 2017

Persiapan yang perlu diperhatikan untuk menulis Karya Ilmiah

Persiapan yang perlu diperhatikan untuk menulis Karya Ilmiah


Bagi kalangan di pendidikan tinggi menulis Karya Ilmiah bisa dikatakan cukup susah. Sebenarnya, apabila kita mengetahui persiapan untuk menulis karya ilmiah akan membantu kita dalam penulisannya karya ilmiah tersebut.

Terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan menulis Karya Ilmiah yaitu pertama pemilihan topik atau masalah, kedua penentuan judul, ketiga pembuatan kerangka karya (outline). Berikut ini penjabarannya

1.    Pemilihan topik atau masalah

Topik merupakan pokok pembicaraan atau masalah. Sebaiknya carilah topik yang sangat menarik perhatian oleh anda dan sangat diketahui oleh anda sendiri dari pada membuat topik yang tidak anda tahu dan sama sekali tidak menarik.

Arifin dalam Dwikola dan Riana (2012:8) menyampaikan hal-hal berikut yang patut dipertimbangkan dengan saksama untuk pemilihan topik
a.       Topik yang dipilih harus berada disekitar kita, baik disekitar pengalaman kita maupun di sekitar pengetahuan kita.
b.      Topk yang dipilih harus topik yang paling menarik perhatian kita
c.       Topik yang dipilih terpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas
d.      Topik yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya walaupun serba sedikit.
e.       Topik yang dilihi harus memiliki sumber acuan, memiliki bahan kepustakaan yang dapat memberikan informasi tentang pokok masalah yang hendak ditulis. Sumber kepustakaan dapat berupa buku, majalah, jurnal, surat kabar, brosur, surat keputusan, situs web, atau undang undang

2.      Penentuan Judul dan Pembatasan Topik

Apabila topik sudah ditentukan hal yang perlu dilakukan adalah dengan pembatasan topik. Dengan kita melakukan pembatasan topik sama saja dengan langkah-langkah dalam penentuan judul, perbedaannya terdapat pada pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah.
Sedangkan penentuan judul dapat dilakukan sebelum atau sesudah penulisan karya ilmiah. Penentuan judul untuk karya ilmiah dapat juga ditempuh dengan melontarkan pertanyaan – pertanyaan masalah apa, mengapa, bagimana, dimana dan kapan.

3.   Pembuatan Kerangka Karya

Kerangka karya atau outline merupakan sebuah proses penggolongan dan penataan berbagai fakta yang biasanya berbeda-beda sifat dan jenisnya menjadi satu kesatuan yang berkaitan.
Penulisan karya ilmiah harus menentukan judul bab dan judul subbab terlebih dahulu sebelum menentukan kerangka karya. Judul bab dan judul subbab merupakan pecahan masalah dari judul karya ilmiah.
Apabila kita sudah merasa yakin bahwa masalah tersebut sudah dipecah manjadi bab, subbab, kini penyusun karya ilmiah sudah dapat menuliskan kerangka karya ilmiahnya. Ragangan ini yang akan menjadi patokan bekerja, sehingga tidak tumpang tindih dalam penganalisanya.

4.      Pengumpulan Data

langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mencari informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang terdapat relevensinya dengan judul tulisan. langkah lainnya juga dapat mencari informasi dengan terjun ke lapangan secara langsung.  
Data di lapangan dapat dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, atau eksperimen. tetapi satu hal yang perlu dilakukan sebelum terjun kelapangan adalah dengan meminta surat izin penelitian terlebih dahulu kepada pemerintah atau Instansi.

5.      Pengorganisasian dan Pengonsepan

Apabila data yang sudah terkumpul, tahap selanjutnya adalah dengan menyeleksi data tersebut. kemudian menggolongkan data tersebut sesuai dengan sifat dan bentuknya. serta anda dapat menentukan data mana yang akan dibahas selanjutnya.

6.      Pengetikan dan Penyajian

Dalam pengetikan dan penyajiannya anda dituntut untuk memperhatikan secara teliti segi kerapiannnya. Anda harus memperhatikan bagian cover, halaman judul, daftar isi, dan daftar pustaka.

Itulah beberapa poin penting perihal persiapan yang perlu diperhatikan untuk menulis Karya Ilmiah. Sekian, semoga bermanfaat.

Referensi
Dwiloka, Bambang dan Riana Rati, 2012, Teknik Menulis Karya Ilmiah, Jakarta : Rineka Cipta

Jumat, 13 Januari 2017

BUDI: Meningkatkan Kualifikasi Akademik Anda sebagai Dosen

BUDI: Meningkatkan Kualifikasi Akademik Anda sebagai Dosen


Melalui BUDI, pemerintah berupaya meningkatkan kualifikasi dosen.


Sebagaimana BPP, program BUDI memberikan pilihan untuk menempuh program pascasarjana dalam negeri dan magister baik di dalam maupun di luar negeri Khusus untuk progam dalam negeri memberikan pilihan studi lanjut pada jenjang magister dan doktor, sementara untuk program luar negeri hanya memberikan beasiswa untuk melanjutkan studi pada jenjang doktor (S3). 

Dosen yang menyandang gelar doktor baru mencapai 30.263 atau 13 persen. Semanatara, jumlah tenaga pendidik yang masih menyandang gelar S-1 masih tergolong relatif besar, yaitu 46.479 dosen atau 20 persen dari kelompok sarjana (Puspawarna Pendidikan Tinggi Indonesia 2011-2015). 

Meskipun jumlah tersebut belum memenuhi kualifikasi dan kompetensi dalam pembelajaran perguruan tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah masih memberikan tolerandi dan melakukan upaya proaktif dengan skema pemberian beasiswa bagi dosen untuk menempuh program magister.

Sebagaimana amanat UU RI No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang mensyaratkan kualifikasi akademik minimum bagi dosen adalah lulusan program magister untuk program pendidikan diploma dan sarjana, serta lulusan program doktor untuk program pendidikan pascasarjana. 

Selain itu, berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) 2015, mayoritas dosen berpendidikan S-2 berjumlah mencapai 159.820 orang atau sekitar 67 persen dari kelompok sarjana. 

Saat ini Kemenristekdikti melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Imu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ditjen SDID) telah mengganti skema program BPP-DN dan BPP-LN dengan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia (BUDI). Dimana program ini tidak lagi bergantung  pada APBN, melainkan sinergi bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kemenkeu dengan Kemenritekdikti. 

Lebih lanjut, berdasarkan data PDDIKTI 2015, jumlah profesor di PTS dan PTN baru mencapai 4.818 atau hanya 2 persen dari total populasi dosen. Berbagai program beasiswa diberikan pemerintah khusus kepada dosen, baik beasiswa dalam negeri maupun luar negeri sebagai upaya untuk meningkatkan kualifikasi akademik dosen. 

Jika sebelumnya pemerintah melalui Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Luar Negeri (BPP-LN) dan BPP Dalam Negeri (BPP-DN) menggunaan pendanaan dari APBN memberikan pendanaan pendidikan untuk para dosen terbaik PTN dan PTS. 


Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Buku Panduan Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia Luar Negeri 2016, dimana dijelaskan bahwa BUDI –LN Kemenristekdikti – LPDP diperuntukkan bagi dosen tetap yang memiliki NIDN dan/atau NIDK pada Perguruan Tinggi di lingkungan Kemenristekdikti yang akan meraih gelar S3.

Baca juga: Cara Membuat PPT yang Komunikatif dan Atraktif

Sama dengan beasiswa dalam negeri, untuk jenjang S3 beasiswa luar negeri memberikan rentang waktu studi selama 36 bulan dan dapat diperpanjang maksimal 2 (dua) semester. Sebagaimana tujuan awal program ini untuk meningkatkan kualifikasi akademik dosen, sehingga program ini diperuntukkan bagi dosen di lingkungan Kemenristekdikti. 

Jangka waktu studi yang dibiayai untuk menempuh program pendidikan S3 adalah maksimum 48 bulan yang dipecah menjadi dua bagian, yaitu 36 bulan dibiayai langsung, dan dapat diperpanjang dua kali 6 (enam) bulan bagi yang memenuhi semua persyaratan, sedangkan untuk program pendidikan S2 maksimum 24 bulan untuk program dalam negeri.

Khusus untuk penerima beasiswa dalam negeri berkewajiban untuk melakukan pemutakhiran perkembangan studinya secara periodik ke laman ini. Untuk beasiswa luar negeri pelamar harus melampirkan unconditional LoA (Letter of Acceptance) dari perguruan tinggi yang dituju serta melampirkan salinan kemampuan berbahasa inggris sesuai yang disyaratkan.

Cara pendaftaran program BUDI dengan mendaftar ke laman ini secara online serta melamar ke perguruan tinggi tujuan tempat studi yang dinginkan. Dimana untuk Daftar Perguruan Tinggi dan Program Studi yang dilingkup dalam program ini baik di dalam maupun di luar negeri telah ditentukan oleh Kemenristekdikti sebagaimana terlampir dalam Pedoman Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia yang dapat Anda download di sini

Dosen yang dapat melamar program ini dapat berasal dari PTS maupun PTN yang telah memiliki NIDN atau NIDK dengan batas usia 45 tahun untuk S2 dan 50 tahun untuk S3 terhitung per 31 Desember tahun berjalan. Dimana untuk program BUDI –DN persyaratan IPK tidak diberlakukan, meskipun PPs Penyelenggara pada umumnya tetap memiliki persyaratan IPK pada saat proses penerimaan mahasiswa baru.  Semoga Berhasil.

perguruan tinggi Indonesia

Referensi:


Cara Membuat PPT yang Komunikatif dan Atraktif


Cara membuat PPT, menguasai Presentasi PowerPoint, PPT membantu Anda saat mengajar di kelas. Ini cara membuat PPT.

Catatan Penting Cara Membuat PPT

Itulah kelima cara membuat PPT yang sering digunakan untuk berbagai bentuk presentasi. Adapun beberapa catatan penting berkenaan pembuatan PPT. Pertama, perihal cara mendelete slide yang telah dibuat. Caranya, dapat dilakukan dengan menempatkan kursor pada slide yang berada di sisi kiri, kemudian tekat delete di keyboard.
Kedua, cara mengatur slide satu dengan slide dua, dapat dilakukan dengan cara drag and drop. Ketiga, cara melihat hasil kreativitas membuat PPT, dapat dipreview. Lokasi privew terletak di sisi sisi kiri, pojok atas. Sedangkan untuk melihat hasil PPT dalam bentuk full screen (keseluruhan) dapat dilihat dengan klik slide show yang berada di pojok bawah kanan. Seperti gambar berikut.

|dosen Indonesia|

Cepat Menguasai PPT

Pertama, setelah menghidupkan komputer, kita langsung bisa buka Microsoft PowerPoint di Microsoft office. Di tahap inilah kita bisa sudah masuk di lembar kerja. Untuk memulai pengerjaan, kita bisa langsung pilih theme pada design, pilih salah theme yang kita sukai. Kita juga bisa mengubah warna, ukuran dan effects.
Cara membuat PPT yang kedua, kita bisa langsung mengetik poin-poin yang ingin disampaikan. Di lembar kerta PPT, kita bisa mengganti click to add title dengan judul materi yang ingin disampaikan. Di bawahnya, terdapat kolom click to add subtitle, kita isi dengan deskripsi atau poin yang ingin kita jelaskan.
Tiga, menambahkan slide baru dibawahnya. Menambah slide dapat menekan menu home, klik new slide, kemudian bisa pilih layout sesuai selera. Cara cepat menambah slide, dapat dilakukan dengan menempatkan kursor di slide yang terlihat disamping kanan, kemudian klik enter. Maka, otomatis akan muncul slide baru.
Empat, cara membuat PPT yang lebih menarik secara tampilan, bisa menambahkan animasi tiap slide. Caranya, tempatkan slide yang diinginkan, kemudian di menu atas, pilih ‘animation’, pilih ditampilan yang kita inginkan.

Baca juga: Ikuti 3 Cara Ini Agar Anda Sadar Pentingnya Menulis Buku
 
Lima, di langkah nomor 4 kita dapat menambahkan suara (di no sound) dan mengatur kecepatan animasi di kolom fast. Keuntungan PPT sebagai media presentasi yang atraktif, cara membuat PPT agar atraktif dapat di atur di ‘add effect’. Berfungsi memodifikasi poin presentasi tampil dengan gerakan melayang, berkedip dan masih banyak pilihan lain. add effect berada di sisi kanan, di bawah menu, seperti gambar berikut.


Tips Cara Membuat PPT yang Baik 


Powerpoin dikemas lebih singkat, padat jelas, atraktif dan tidak membosankan. Adapun manfaat dari keringkasan dari PPT. Di antarannya, pembaca fokus ke presenter, bukan fokus ke layar yang menjelaskan secara detail lewat tulisan. Sedangkan PPT yang disampaikan sesuai dengan pointer-pointer, yang cukup dilihat hanya sekilas oleh penonton jauh lebih efektif mengajak penonton untuk memperhatikan presenter ketika menjelaskan poin yang ada di PPT.

Tidak semua orang tahu PPT yang baik itu seperti apa. Sebagian orang, ada yang menyajikan data dalam bentuk PowerPoint ditulis secara detail di bagian kolom click to add text, seperti menulis di Ms. Word. Bukan berarti cara itu sepenuhnya salah. Sebagian orang beranggapan fungsi dari PPT adalah membantu presenter mengingatkan pesan yang hendak dijelaskan. Dengan kata lain, penjelasan yang panjang lebar cukup disampaikan oleh presenter ketika presentasi di depan. Sehingga, ketika presentasi ke depan, yang terlihat di layar hanya poin inti. (els)

Rabu, 07 Desember 2016

Ikuti 3 Cara Ini Agar Anda Sadar Pentingnya Menulis Buku

Ikuti 3 Cara Ini Agar Anda Sadar Pentingnya Menulis Buku

menulis buku


Menulis Buku Ajar? Sudah menjadi kewajiban bagi dosen untuk menghasilkan karya ilmiahnya sendiri, baik dalam bentuk jurnal, laporan penelitian, maupun menulis buku. Sayangnya, hal ini masih menjadi wacana yang patut diperhatikan dunia akademik. Dunia dosen yang berada dalam kubangan ilmu sudah sepantasnya menghasilkan banyak karya ilmiah, yang tidak hanya dipajang, tetapi juga dipublikasikan dan dipakai berkelanjutan.

Upaya-upaya apa saja yang bisa dilakukan para dosen untuk bisa menerbitkan buku mereka? Berikut merupakan beberapa cara yang bisa dipilih para dosen untuk meningkatkan kesadaran menulis buku.


1. Melibatkan Mahasiswa untuk Menulis Buku

Selain mengikuti program hibah, tidak ada salahnya bagi dosen untuk melibatkan mahasiswa dalam rangka menerbitkan karya ilmiahnya. Mungkin dalam banyak jurnal telah banyak tulisan mahasiswa yang dipublikasikan, tetapi tidak dalam buku. Masih banyak mahasiswa yang bisa didampingi dan diasah potensinya untuk terlibat dalam menulis buku bersama dosen.

Dengan menerapkan alternatif ini, dosen akan terbantu untuk mempublikasikan karya ilmiahnya. Di samping itu, dosen juga bisa membantu mahasiswa untuk menghasilkan tulisannya. Adalah suatu kebanggaan sendiri bagi mahasiswa apabila karya ilmiah mereka bisa dibaca oleh khalayak umum. Selain itu, dosen juga akan merasa lebih ringan dari tuntutan menulis buku.

Alternatif penulisan buku seperti ini telah diterapkan oleh Dr. Budiawan, salah seorang dosen dari program studi Pengkajian Budaya dan Media, Universitas Gadjah Mada. Tidak hanya menjadi dosen di program studi tersebut, Budiawan juga mengajar di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya UGM, baik di program pascasarjana maupun sarjana. Di program pascasarjana, beliau mengajar mata kuliah Sejarah dan Politik Memori. Berkat gagasannya, beliau berhasil menulis sebuah buku yang berjudul Sejarah dan Memori.
Buku tersebut merupakan hasil pemikiran Budiawan sebagai dosen dan beberapa mahasiswanya terpilih. Para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini ditugaskan untuk menulis dan menyerahkan paper yang sesuai dengan mata kuliah tersebut. Alhasil, 8 paper telah terkumpul dan diperiksa untuk dibukukan bersama dengan tulisan Budiawan. Buku yang telah diterbitkan tersebut kemudian bisa dijadikan sebagai referensi untuk materi perkuliahan dalam mata kuliah yang sama.

Kekompakan dosen dan mahasiswa dalam menulis buku juga ditunjukkanoleh Dr. Sunandar Ibnu Mur dan Dr. Hasan Basri Tanjung. Dosen dan mahasiswa itu berkolaborasi menerbitkan buku dan membedahnya pada acara Islamic Book Fair 2016 di Isotra Senayan, Jakarta. Keduanya memang memiliki latar belajang sebagai penulis. Penulisan buku tersebut lebih difokuskan pada pemahaman agama di kalangan masyarakat.


2. Membenahi Diri
Seperti yang telah dituliskan dalam artikel-artikel sebelumnya, motivasi menjadi hal terpenting dalam memunculkan kesadaran menulis. Mungkin menulis demi angka kredit kenaikan pangkat, promosi, kenaikan jabatan, meraih gelar, atau uang menjadi hal paling manusiawi untuk dijadikan motivasi. Tidak hanya itu itu, dorongan untuk mendapatkan pengakuan, rasa hormat, dan kemampuan memengaruhi orang lain juga seringkali memunculkan keinginan tersendiri. Namun dalam menerbitkan buku akan lebih baik jika dosen lebih berpikir untuk meningkatkan kemampuan pedagogiknya, dengan menunjukkan kontribusi dan mengamalkan ilmunya.

Motivasi selanjutnya bisa diimbangi dnegan efikasi diri. Para dosen bisa meyakinkan diri bahwa mereka mampu menulis sebuh buku. Mereka bisa belajar dari pengalaman orang lain untuk membawa dirinya berhasil dalam melakukan upaya ini. Lingkungan kerja yang kondusif dan sarat budaya menulis juga bisa memacu mereka dalam menulis dan menerbitkan buku.

Berikutnya, untuk menyempurnakan pembenahan diri, para dosen bisa lebih jeli mengatur beban kerjanya dan meningkatkan kemampuan menulisnya. Mereka bisa membuat  kesepakatan dengan pihak akademik untuk meminimalisasi target pengajaran. Sementara itu, meningkatkan kemampuan menulis bisa dilakukan dengan mencari lebih banyak literatur. Tidak ada alasan bagi dosen untuk tidak membaca. Selanjutnya, keterampilan menulis juga harus dilengkapi dengan kemampuan mengolah ide, menyunting tulisan, dan penguasaan teknis dalam menulis.
3. Mendaftarkan Diri dalam Program Hibah Kemenristek Dikti
Kemenristek Dikti bersama dengan Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Direktorat Pengelolaan Kekayaan Intelektual telah mengumumkan program hibah penulisan buku ajar 2016. Program ini merupakan tindak lanjut dari himbauan Menristekdikti dalam memacu para dosen untuk menulis, terutama menulis buku ajar. Program yang diharapkan dapat berlangsung dalam janga waktu yang panjang tersebut bertujuan memperkaya wawasan ilmiah dalam kegiatan mengajar maupun penelitian yang dilakukan para dosen dan peneliti.

Karya ilmiah dosen yang bisa diikutsertakan dalam program ini adalah karya ilmiah yang belum terbit berupa monograf, buku ajar, compendium, pengayaan pembelajaran, atau modul pengajaran. Tidak hanya itu, hasil riset orang lain yang belum pernah diterbitkan juga bisa didaftarkan dalam program ini. Naskah berupa revisi dari buku yang telah terbit tidak akan diterima, begitu pula dengan naskah hasil terjemahan atau saduran.
Para dosen atau peneliti yang belum memiliki naskah atau buku ajar bisa segera mendaftarkan diri untuk mengikuti program ini. Mereka yang lolos akan mendapatkan sejumlah dana. Selain itu, mereka juga akan didampingi oleh Kemenristek Dikti dalam hal penyempurnaan naskahnya.

Ketiga cara di atas bisa Anda sebagai dosen tiru agar lebih siap untuk menulis buku. Semoga bermanfaat.


Referensi:


(wfw)

Rabu, 09 November 2016

Hilirisasi Hasil Riset dan Pengembangan oleh Pemerintah

Hilirisasi Hasil Riset dan Pengembangan oleh Pemerintah

hasil riset



Hilirisasi hasil riset dan pengembangan tengah dilakukan oleh pemerintah, melalui Kemenristekdikti. Hilirisasi melalui beberapa tahap uji pada beberapa hasil riset dari perguruan tinggi.



Tingkat Kesiapterapan Teknologi (Technology Readiness Level) yang selanjutnya disingkat dengan TKT adalah tingkat kondisi siap tidaknya suatu hasil penelitian dan pengembangan teknologi untuk diterapkan. Kondisi tersebut diukur secara sistematis. TKT merupakan ukuran yang menunjukkan tahapan atau tingkat kematangan ata kesiapan teknologi pada skala 1 sampai 9. Antara satu tingkat dengan yang lain saling terkait dan menjadi landasan untuk tingkatan selanjutnya.

Pemerintah tengah berupaya menerapkan atau hilirisasi hasil riset dan pengembangan yang dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Tidak asal diterapkan begitu saja, penerapan hasil riset dan pengembangan yang ada harus melalui berbagai tahap uji agar layak diadopsi oleh pengguna, baik pemerintah, industri, dan masyarakat.
Adapun tujuan yang ditetapkan berdasarkan Permen terkait TKT ini, antara lain:

- Mengetahui status kesiapterapan teknologi
- Membantu pemetaan kesiapterapan teknologi
- Mengevaluasi pelaksanaan program atau kegiatan riset dan pengembangan
- Mengurangi risiko kegagalan dalam pemanfaatan teknologi, dan
- Meningkatkan pemanfaatan hasil riset dan pengembangan.

Untuk itu, pemerintah melalui Kemenristek DIkti menerapkan Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (Technology Readiness Level) yang diputuskan melalui Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 42 tahun 2016 dalam rangka “Hilirisasi Hasil Riset dan Pengembangan”.

Hasil pengukuran TKT ini nantinya dapat digunakan oleh, pertama, pengambil kebijakan. Oleh pengambil kebijakan, hasil pengukuran TKT bermanfaat untuk merumuskan, melaksanakan, dan mengevaluasi program riset dan pengembangan. Kedua, oleh pelaku kegiatan dalam rangka menentukan tingkat kesiapterapan teknologi untuk dimanfaatkan dan diadopsi. Ketiga, pengguna hasil riset dan pengembangan.

Siapakah yang bertanggung jawab mengukur? Pihak yang bertanggung jawab melakukan pengukuran kesiapterapan teknologi terbagi menjadi dua tingkat: tingkat nasional dan tingka institusi/unit kerja. Pada tingkat nasional, penanggung jawabnya adalah Dirjen Penguatan Risbang. Sementara pada tingkat insitusi/unit kerja, penanggung jawabnya yaitu pemimpin perguruan tinggi, kepala LPNK, Kepala Unit kelitbangan pada kementerian, dan kepala SKPD terkait. Penanggung jawab tersebut harus membentuk dan menetapkan Tim Penilai dan Sekretariat Pelaksana TKT.
Bagaimana cara mengukurnya? Pengukuran dilakukan dengan mengukur capaian indikator dari setiap tingkatan kesiapterapan teknologi. Pengukuran dilakukan secara online dan dilakukan paling lambat setiap tahun akhir Maret untuk kegiatan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Dan atau, sesuai persyaratan insentif yang diajukan.
Pengukur terdiri dari Koordinator penelitian, verifikator pengukuran (tim penilai), dan validator pengukuran (Penanggung Jawab pengukuran). Koordinator penelitian ini melakukan self assessment terhadap teknologi hasil penelitian dan pengembangannya melalui online. Sementara itu, verifikator melakukan verifikasi terhadap hasil self assessment dan penanggung jawab melakukan validasi.

Yang diukur adalah hasil dari kegiatan penelitian dan pengembangan yang didanai pemerintah, baik dana dari APBN, APBD, maupun dana pemerintah RI lainnya seperti LPDP, DIPI, dll. Selain itu, juga hasil dari kegiatan yang dilakukan oleh instansi pemerintah dengan dana lainnya. Output pengukuran TKT ini antara lain:
Adanya pengukuran TKT ini menunjukkan bahwa pemerintah sudah membuat aturan agar teknologi atau hasil riset menjadi tepat serta layak guna. Dengan kata lain, hasil riset diarahkan agar bisa diberdayakan oleh segenap elemen, dari pemerintah sampai masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat. Namun perlu dicatat, apa yang dipaparkan pada artikel ini sebatas dari kebijakan dan konsepnya saja. Ke depannya, perlu untuk mengawal penerapan program ini agar hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan ini terwujud sesuai dengan outcome yang diharapkan:

- Peta kondisi TKT pada lembaga-lembaga riset dan pengembangan dari hulu ke hilir.
- Peta penggunaan anggaran untuk riset dan pengembangan
- Peta kekuatan riset dan pengembangan lembaga di Indonesia


Sementara itu, outcome yang diharapkan dari adanya output tadi antara lain:
- Program-program terarah menuju hilirisasi
- Program-program insentif lebih fokus
- Kepastian hilirisasi

Referensi:
  1. Ditjen Pengembangan Teknologi Industri Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti. 2016. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 42 tahun 2016 Tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi – Hilirisasi Hasil Riset dan Pengembangan dalam rangka peningkatan Daya Saing diakses dari http://www.kopertis4.or.id/wp-content/uploads/2016/10/01.-KEMENRISTEKDIKTI_HOTMATUA-DAULAY_TKT-TRL.pdf